|
 BUKU : MENYIBAK TABIR PEREMPUAN BERPOLITIK Pemaparan Oleh NURUL ARIFIN Tanggapan Nurul Arifin dimulai dengan memperlihatkan Buku Menyibak Tabir Perempuan dan menafsirkan cover buku. Warna cover ada 4 warna, yang warna kuning malu-malu muncul. Cover tersebut menyiratkan ketika perempuan berpolitik harus naik kursi supaya suaranya didengar. Beberapa hal yang digarisbawahi Nurul Arifin: - Terkait dengan affirmative action sebenarnya agar suara perempuan bisa terdengar.
- Terkait dengan pernyataan the personal is political, personal itulah yang dinilai. Sebenarnya demokratis itu dapat dilihat di tempat tidur/di ranjang. Misalnya: ditanya sudah mau keluar belum atau posisinya bagaimana biar enak, dsb.
- Kalau Kartini mengatakan mengubah dunia dari pendidikan, namun pendidikan itu juga terkait dengan kebijakan politik. Oleh karena itu, untuk mengubah dunia harus lewat politik, dan yang terpenting lewat sistem.
- Kalau dilihat dari paparan Mbak Nurul bahwa perempuan punya potensi menyelesaikan persoalan, maka potensi ini harus dipupuk. Pengalaman saya, ketika ada satu orang yang agresif, itu sebenarnya bukan untuk diredam tetapi dibiarkan karena hal itu akan menjadi penyemangat.
- Ketika perempuan berpolitik perempuan harus perang melawan dirinya sendiri, perang melawan perempuan lain dan perang melawan laki-laki.
- Ketika berpolitik di dalam partai politik, kata kuncinya adalah jangan pernah menyerah. Jangan pernah kecewa ketika kita mentok di nomor bawah. Kita dapat kematangan dan jaringan dan itu kekuatan yang bisa dijadikan modal. Kekuatan sosial itu penting.
- Menjadi politisi yang diperlukan tidak hanya popularitas tapi juga kapabilitas. Maka para perempuan politisi harus rajin-rajin ketemu dengan konstituen untuk mendengarkan perubahan apa yang diperlukan mereka. Selain itu jangan pernah meninggalkan basis, karena bekerja di legislatif atau parlemen tanpa dukungan basis nonsens.
- Mbak Maria mengatakan: perempuan, ketika menemukan dunianya jarang balik lagi, maka perempuan harus konsisten.
- Terkait degan strategi, perempuan harus tahu angka BPP (30 persennya berapa dan di daerah mana), karena laki-laki tidak akan mengurusi hal seperti itu, karena mereka membawa gerbongnya sendiri. Kemudian perempuan harus pintar-pintar melihat peta di dalam partai.
- Sebagai individu, perempuan harus bisa mengasah kemampuan dan yang terpenting secara kultur kita tidak bisa mengubah budaya patriarkhi, yang dilakukan adalah mengubah struktur melalui Undang-Undang dan perangkatnya.
| |